Nama Karya Budaya

Tembang Batanghari Sembilan

Tambah
Nama-nama Lain Karya Budaya
lagu batanghari sembilan, musik batanghari sembilan, irama batanghari sembilan, rejung
Nama Orang yang Melaporkan Karya Budaya
: BALITBANGDA SUMSEL
: JLN demang lebar daun no 4864 palembang
: 30137
: 374456
: -
: 350077
Tempat dan Tanggal Laporan Karya Budaya
: PALEMBANG
: 5 Oktober 2013
Persetujuan Pencatatan Karya budaya
  1. Dewan Kesenian Sumatera Selatan
  2. Dewan Kesenian Kota Palembang
  3. Lembaga Budaya Komunitas Batanghari Sembilan
  4. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sumatera Selatan
  5. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palembang
  6. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. Sumatera Selatan
  7. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kota Palembang
  8. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sumatera Selatan
  9. Lembaga Adat Sumatera Selatan
  10. Lembaga Adat Palembang
Sejarah Singkat Karya Budaya

Batanghari Sembilan adalah istilah untuk irama musik dengan petikan gitar tunggal yang berkembang di Wilayah Sumatera Bagian Selatan. Dalam pengertian yang lebih luas, Batanghari Sembilan adalah kebudayaan yang berbasis pada sungai. Kebudayaan ini adalah kebudayaan agraris yang selaras dengan alam. Musik yang diekspresikan dari budaya ini bernuansa romantik, melonkolik dan naturalistik.

 

Musik dan lagu batanghari sembilan diperkirakan berakar dari rejung (pantun/sastra tutur di Besemah, salah satu wilayah Batanghari Sembilan). Pada mulanya, rejung tak menggunakan instrumen musik tradisional sebagai alat pengiring bunyi, ia hanya dituturkan dengan irama yang khas.

Perkembangan selanjutnya, rejung mulai diharmonisasikan dengan alat bunyi perkusi sederhana, terbuat dari bambu (getuk, getak-getung), kulit binatang (redap) dan terbuat dari besi (gung, kenung). “Instrumen” rejung ini bertambah lagi dengan alat bunyi tiup yang terbuat dari bambu (seredam), besi (ginggung) bahkan ada yang terbuat dari daun (carak). Alat musik modern; gitar, akordion, terompet, biola, mulai dikenal menjadi alat pengiring musik dalam batanghari sembilan diperkirakan sejak bangsa Barat masuk ke Sumsel.


Sejak memakai alat musik modern, alat musik tradisional mulai ditinggalkan, hanya ginggung (ginggong) masih terlihat. Pasca 1945, sesuai dengan dinamika perkembangannya, genre musik batanghari sembilan membelah lagi menjadi beberapa sub-genre, pengkategorian musik seperti terkadang merupakan hal yang subjektif, di antaranya rejung (makna lain adalah sastra tutur), tige serangkay (tiga serangkai), antan delapan gitar tunggal (akustik).

Awalnya tige serangkay dan antan delapan adalah judul pantun dalam rejung. Amuntaukah ayik karawang /Ay, ngape nak nyabun aduhay sayang, sane seberang sane /Amuntaukah nasib kah malang /Ay, ngape nak tughun aduhay, sayang deniye dalam lah deniye /Amun mbak ini rupe mandian /Ay, ngape dik mandi aduhay, sayang kayik jalan kayik /Amun mbak ni rupe bagian /Ay, ngape di mati aduhay, sayang kecik badan lah kecik adalah syair tiga serangkai. Dalam perkembangannya, nada, ritme, melodi, dan harmoni dalam kedua lagu itu menjadi menjadi lagu-lagu dengan judul lain.

Salah satu wilayah Sumatera Selatan, di Kabupaten Ogan Ilir terdapat satu wilayah yang memiliki kesenian khas Batanghari Sembilan yaitu desa “Muara Kuang”. Di Kecamatan ini pertama kali kesenian Tembang Batanghari Sembilan dipopulerkan yang lazim disebut Tembang Nasib. Sejak tahun 1970-an sampai dengan sekarang sudah berciri khas diiringi tari daerah dan lagu.

 

Syair Tembang Batanghari Sembilan yang pertama kali diciptakan adalah : “muara Kuang Enam Belas Dusun, lima di kuang sebelas di Ogan, Dusun Muara Kuang mintak disusun, banyak kekurangan serbe ketinggalan”. Dimana pantun atau syair Tembang Batanghari Sembilan ini menceritakan di daerah Muara Kuang itu sendiri terdiri dari enam belas desa diantaranya lima berada di daerah Kuang dan sebelas berada di daerah Ogan. Tembang Batanghari Sembilan umumnya ditampilkan dalam rangka menyambut para tamu penting seperti : Gubernur, Bupati dan Camat.

Nama komunitas /organisasi/asosiasi/badan/paguyuban/kelompok sosial atau perorangan penanggung jawab karya budaya
1.
: Dewan Kesenian Sumatera Selatan
: Jl. Seniman Amri Yahya Kompleks Taman Budaya Jakabaring
: -
: -
: 08153839606
: -
: dekasumsel@gmail.com
2.
: Dewan Kesenian Kota Palembang
: Jl. Sultan Mahmud Badaruddin II depan RS. AK. Gani Palembang
: -
: 356898
: -
: -
: dekape@gmail.com
3.
: dekape@gmail.com
: Jl. Musi IV Blok I No. 38 Way Hitam Palembang
: -
: 410535
: -
: -
: valintani@yahoo.com
4.
: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sumatera Selatan
: Jl. Kapten A. Rivai No. 47Palembang
: -
: 311087
: -
: -
: -
5.
: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palembang
: Jl. Dr. Wahidin No.3 Palembang
: -
: 350665
: -
: 353007
: -
6.
: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. Sumsel
: Jl. Demang Lebar Daun Palembang
: -
: 356661
: -
: 311345
: -
7.
: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kota Palembang
: Palembang
: -
: -
: -
: -
: -
8.
: Lembaga Adat Sumatera Selatan
: Jl. Anwar Sastro Palembang
: -
: 360823
: -
: -
: -
9.
: Lembaga Adat Palembang
: Palembang
: -
: -
: -
: -
: -
Guru / Maestro
1.
: Sahilin
: Jalan Pangeran Sido Ing Lautan Kelurahan 35 Ilir Kecamatan Ilir Barat (IB) II
: -
: -
: -
: -
: -
2.
: Vebri Al Lintani
: Jl. Musi IV Blok. I No. 38 Way Hitam Palembang
: -
: 410535
: -
: -
: valintani@yahoo.com
3.
: Anwar Putra Bayu
: Jl. Pangeran Ayin Komplek Bank Sumsel Blok. C No. 12 Kenten Laut Banyuasin
: -
: -
: 08153839606
: -
: anwarputrabayu@gmail.com
Lokasi Karya Budaya
Lokasi Utama
: Sumatera Selatan
:
Alamat-alamat penting:
  1. Provinsi : Sumatera Selatan
Kategori Karya Budaya
  • Seni pertunjukan, termasuk seni visual, seni teater, seni suara, seni tari, seni musik, film.
Uraian / Deskripsi singkat karya Budaya yang dilaporkan

Musik Batanghari Sembilan menggunakan alat musik gitar akustik, perbedaannya hanya terletak pada senar atau penyetelan senarnya, yaitu Snar 6 (enam) dan senar 4 (empat) distem pada lagu-lagu Tembang Batang Hasri Sembilan tertentu. Gitar tunggal digunakan untuk mengiringi Tembang Batang Hari Sembilan.

Tembang Batanghari Sembilan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional berupa vocal manusia yang diringi gitar tunggal (gitar akustik) berupa pantun yang berciri khas bahasa daerah yang terkadang nasehat-nasehat keagamaan, nilai-nilai dan norma-norma dalam adat istiadat serta dapat juga terkadang pantun-pantun lucu maupun pantun-pantun belinjangan (pacaran) terhadap lawan jenis. Tembang Batanghari Sembilan bertujuan sebagai komunikasi antara orangtua dengan kaum muda, dan antara muda mudi yang memadu kasih. Isi dalam tembang ini juga terdapat ungkapan-ungkapan komunikasi kepada pemerintah dalam bentuk penyempaian aspirasi, ucapan terima kasih, kritik dan saran pada pemerintah.

 

Batanghari Sembilan adalah nama lain dari provinsi daerah tingkat I Sumatera Selatan yang memiliki 9 (sembilan) sungai besar yaitu : Sungai Kelingi, Sungai Beliti, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai Rupit, Sungai Batang Leko, Sungai Ogan, Sungai Komering dan Sungai Lematang. Sedangkan Tembang Batanghari Sembilan merupakan salah satu kesenian khas Sumatera Selatan yang merupakan salah satu bentuk kesenian suara/lagu. Kesenian ini berasal dari daerah-daerah yang wilayahnya dialiri oleh sembilan sungai.

 

Kostum yang digunakan pada saat pertunjukkan/penampilan kesenian Tembang Batanghari Sembilan pada saat kesenian tersebut belum berkembang adalah : Untuk pakaian laki-laki menggunakan : Telok Belango, Peci Hitam/Kopiah, Kain Sarung/Pelekat (kotak-kotak) dan Cenela (sendal). Sedangkan untuk perempuan menggunakan pakaian : Baju Kurung, Sanggul Malam, Kain, Cempako, Kalung Tapak Jajo, Antingan, Pending.

 

Sahilin merupakan seniman lagu melayu Batanghari Sembilan dan kabupaten Ogan Komering Ilir adalah salah satu kabupaten yang mempertahankan tradisi dalam berbagai acara mereka. Selain itu kabupaten ini yang memiliki Dewan Kesenian sampai ke kecamatan. 

Kondisi Karya Budaya Saat Ini
Masih bertahan
Upaya Pelestarian / Promosi Karya budaya
  • Pertunjukkan seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Radio, televisi, film (PAL TV setiap hari minggu)
Cara-cara terbaik (best practices) untuk melestarikan dan mengembangkan karya budaya

1. Pembinaan terhadap sanggar teater.

2. Inovasi tanpa merubah makna 

3. Penerbitan buku Drama Turgi dari awal sampai akhir dan CD nya

4. Diusulkan sebagai bahan ajar, masuk kurikulum muatan lokal

5. Pertunjukan di hotel-hotel

6. Festival

7. Dimasukkannya sebagai muatan lokal di sekolah . 

Dokumentasi
  • album
Referensi (ditulis sumber secara lengkap : nama penulis, tahun,judul buku, tempat terbit, penerbit) ; naskah kuno, prasasti, sumber lesan/ nama pelaku (saksi sejarah) yang masih hidup, usia, dll

Rejung: Irama Sungai Yang Menganyutkan , Vebri Al Lintani , Palembang, 2010

Gitar Tunggal: Warna Batanghari Sembilan oleh Ek Pascal, Palembang, 2008 , http://musikmusimengalir.blogspot.com

Gita Tunggal Batanghari Sembilan, Iwan Lemabang, Palembang, 2013, http://plgindah. wordpress.com

Rejung, Mula Musik Batanghari Sembilan, T. Wijaya, Palembang, 2013, http://lemabang. wordpress.com

Website
: www.balitbangnovda.sumselprov.go.id/warisanbudaya
: Oktaf Juairiyah, ST
: Jl. Demang Lebar Daun No 4864 Palembang
: 30137
: 374456
: -
: 350077
: litbangda_sumsel@yahoo.com