Focus Group Discussion (FGD) Draf Final Dokumen Rencana Pengembangan Kawasan Sains Techno Park Sumsel Tahun 2019, Pada Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Kelembagaan DRD Provinsi Sumsel Tahun 2019
12 September 2019 (10:33:15)

501

Palembang, 5 September 2019, bertempat di Ruang Rapat Balitbangda Provinsi Sumsel berlangsung Focus Group Discussion (FGD) Draf Final Dokumen Perencanaan Pengembangan Kawasan Sains Tekno Park Sumsel Tahun 2019, pada Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Kelembagaan DRD Provinsi Sumsel Tahun 2019.

FGD dihadiri oleh Tim Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Dewan Riset Daerah Sumsel, Tim Penyusun Dokumen dan Eselon III lingkup Balitbangda Sumsel.

Acara FGD dibuka oleh Plt, Kepala Balitbangda Sumsel dan sekaligus memimpin FGD. Pada kesempatan ini, Plt Kepala Balitbangda Sumsel menyampaikan bahwa Tim Dewan Riset Derah Sumsel bersama Tim Penyusun telah membuat Draf Final Dokumen Perencanaan Pengembangan Kawasan Sains Techno Park Sumsel yang akan dipaparkan pada hari ini.  Diharapkan kepada Organisasi Perangkat Daerah yang hadir, dapat memberikan saran dan masukan terhadap draf dokumen, dan diharapkan juga OPD dapat mendukung kegiatan di KST dengan memasukan program kegiatan di OPD masing-masing.

Acara dilanjutkan dengan paparan Prof. Andy Mulyana, M.Sc Anggota DRD Sumsel yang memaparkan tentang Perencanaan Pengembangan Kawasan Sains Techno Park Sumsel Bidang Pertanian, Peternakan dan Perikanan.  Konsep dasar perencanaan pengembangan adalah sarana dan prasarana yang ada (exist) sudah mengarah pada opersionalisasi system leisa (low external input sustainable agriculture) atau pertanian terpadu, untuk itu  perlu dilakukan kajian cepat terkait rencana pengembangan STP Sumsel berdasarkan dokumen dan kondisi yang ada. Konsentrasi tematik yang ada pada bidang pertanian adalah pertanian hortikultura, peternakan sapi potong dan perikanan, serta Sinkronisasi visi dan misi STP Sumsel dengan arah pembangunan Provinsi.  Sedangkan tahapan pengembangan yang harus dilakukan adalah pemetaan kondisi eksisting dan rehabilitasi/persiapan lahan, manajemen penyediaan pakan, manajemen pemeliharaan, manajemen pengolahan hasil, manajemen operasional output lainnya.

Pada paparannya Dr. Ir. Irwin Bizzy, MT Anggota DRD Sumsel menyampaikan tentang Perencanaan Pengembangan Kawasan Sains Techno Park Sumsel Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT). Untuk pengembangan EBT ada potensi sinar matahari yang sangat besar dan limbah kotoran sapi yang bisa dimanfaatkan untuk biogas. Untuk pengeringan bahan pakan ternak bisa memanfaatkan teknologi hybrid, prakiraan biaya untuk pembuatan biogas kotoran sapi (4-5 ekor sapi) adalah Rp. 22.948.000.   

Paparan Perencanaan Pengembangan Kawasan Sains Techno Park Sumsel Bidang Teknologi Informatika disampaikan oleh Abdul Rahman, S.Si, M.T.I , yang menyampaikan Tim telah melakukan analisis awal kondisi STP Sumsel, analisis terhadap ternak yang ada di STP adalah sebagai berikut : sapi muda/sehat bejumlah 76 ekor, sapi tua/sehat 21 ekor, sapi anakan berjumlah 12 ekor, kondisi kandang belum menggunakan konsep kandang ternak modern. Sementara jumlah ayam petelur berjumlah 136 (tidak produktif lagi). Tim juga telah melakukan Analisis awal kondisi infrastruktur internet, pernah ada koneksi Internet di STP mengunakan jalur broadband, masuk converage area internet BTS untuk seluler. 

KST Sumsel  perlu membuat SMART STP,  dengan SMART STP maka akan terjadi implementasi teknologi di STP, manajemen ternak sapi yang baik, produksi sapi yang berkualitas, produksi pakan sapi yang maksimal dan berkualitas, kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk ternak sapi dan pakan sapi, benefit bagi STP Sumsel.  Strategi SMART STP adalah membangun infrastruktur jaringan internet, inovasi teknologi pengembangan kandang sapi, inovasi teknologi Internet Of Things (IoT) untuk monitoring kondisi sapi, inovasi teknologi sistem manajemen sapi, inovasi teknologi IoT untuk pakan ternak sapi.

Pada kesempatan ini, Tim Kementerian Riset Teknologi dan Dikti , Bapak Malikus Zahar memyampaikan saran dan masukan sebagai berikut; STP adalah lembaga riset bukan untuk mencari untung, semua OPD baik level provinsi maupun level Kabupaten/Kota sebaiknya terlibat dalam pengembangan STP, untuk itu STP harus membenahi manajemennya dulu sehingga dalam pengembangannya dapat maksimal. STP sebaiknya menyiapkan sarana dan prasarana, dan sebagai estalase hasil riset, serta sebagai penghasil sapi untuk kebutuhan Kota Jakarta (karena jarak dekat dengan kota Palembang) menggantikan Provinsi NTB.  STP adalah milik pemerintah daerah yang harus mandiri dengan pengelolaannya.

DR. Tatang Akhmad Taufik, MSC sebagai fakar KST menyampaikan saran dan masukan sebagai berikut: Kawasan Sains Techno Park berpedoman kepada Perpres nomor 106  tahun 2017,  STP Sumsel diharapkan dapat menyesuaikan namanya menjadi Kawasan Sains Techno Park (KST) sesuai dengan Perpres.   Dalam pemeringkatan maturitas STP harus melihat input, proses, output yang berdampak kepada masyarakat. Maturitas ada tiga level yaitu pembangunan, pengelolaan, dan pengembangan.  IKU STP harus inline dengan IKU Balitbangda,  Kelembagaan STP harus out of the box, sehingga dapat mendukung fungsi STP sebagai tempat alih teknologi dan difusi teknologi. 

STP harus mengikuti paradigma bisnis modern dan berkolaborasi ABGCM untuk menghilirisasi produk-produk inovatif dari STP. STP diharapkan dapat membangun ekonomi daerah dan berani melakukan blue ocean strategy yang dilakukan oleh STP lain dalam rencana pengembangannya (pengembangan ikan endemik belida).

Kesimpulan Focus Group Discussion (FGD) Draf Final Dokumen Kawasan Sains Techno Park Sumsel Tahun 2019 :

  • Organisasi Perangkat Daerah yang hadir siap mendukung program/kegiatan yang ada di STP Sumsel, Dinas Kominfo akan membantu membangun infrastruktur internet melalui program internet desa dan mendukung SMART STP sebagai wujud membantu masyarakat memanfaatjan internet. 
  • Diperlukan kerjasama STP dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Paramedik Veteriner dan Inseminator Indonesia (PARAVETINDO) untuk transfer teknologi kawin suntik menghasilkan benih kembar dalam rangka memenuhi swasembada daging Sumsel
  • UPTB STP agar  merapihkan dahulu tata kelola baru kemudian ke arah pengelolaan sistem BLUD.
  • STP menjadi lembaga nirlaba, yaitu dengan mendapatkan profit untuk dapat menghidupi STP sendiri.
  • Agar dicermati jangan terjadi duplikasi laporan kegiatan. Untuk kegiatan penguatan rencana bisnis STP harus lebih detail dan fokus peternakan diambil inti sari dari dokumen rencana pengembangan yang umum di kegiatan ini (fasilitasi DRD).
  • Agar di dokumen pengembagan bidang yang lain sampai membuat proyeksi keuangan dan analisis usaha pengembangan masing-masing bidang seperti bidang peternakan.
  • Tim Balitbangda agar menyiapkan dan menjadwalkan pertemuan dengan OPD terkait, tim DRD Sumsel, tim Penyusun Dokumen, pertemuan diharapkan dapat dilaksanakan di STP agar dapat melihat langsung kondisi STP I dan STP III.

Foto Berita

1318
1319
1320