Ketua DRD Sumsel Menjadi Narasumber pada acara Sidang Paripurna Dalam Rangka Pengukuhan Anggota DRN 2019-2022 dan Seminar Membangun SDM Inovatif Menuju Industri 4.0
11 Juli 2019 (11:37:23)

493

Jakarta, 4 Juli 2019, bertempat di Auditorium Ristekdikti Gedung D berlangsung Acara Sidang Paripurna Dalam Rangka Pengukuhan Anggota DRN 2019-2022 dan Seminar Membangun SDM Inovatif Menuju Industri 4.0. Pada acara ini, Ketua Dewan Riset Daerah Sumatera Selatan diminta sebagai salah satu narasumber.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir melantik 74 Anggota Dewan Riset Nasional (DRN) Periode 2019-2022, yang ditugaskan untuk mengawal dan menerapkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) kepada mitra DRN.  Dengan pengukuhan anggota DRD diharapkan dapat segera bekerja membantu Menristekdikti membuat kebijakan-kebijakan tentang iptek dan inovasi, mempunyai draf roadmap mengenai arah dan tujuan organisasi DRN, mempunyai konsep pembangunan SDM era industry 4.0.

Pada sambutannya Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir menyampaikan bahwa seluruh lembaga riset nasional akan diarahkan ke industry. DRN diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi dan perannya, bukan hanya untuk lembaga penelitian tetapi juga kementerian yang ada dalam penelitian dan pengembangan (litbang).  Kedepan pemerintahan baru menyetujui membuat Badan Riset Nasional (BRN), lembaga yang dianggap penting mendukung Indonesia menjadi Negara maju.  Tugas BRN tertuang di dalam RUU Sisnas Iptek.  BRN ditargetkan berdiri di 2020. Selain itu, perlu optimalisasi RIRN agar penelitian lebih efektif.

Pada Laporannya, Ketua Dewan Riset Nasional Periode 2015-2018, Bambang Setiadi menyampaikan DRN terdiri dari berbagai komisi yakni Komisi Teknis Pangan dan Pertanian, Komisi Teknis Energi, Komisi Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Komisi Teknis Transportasi dan Maritim, Komisi Teknis Pertahanan dan Keamanan, Komisi Teknis Kesehatan dan Obat, Komisi Teknis Material Maju, Komisi Teknis Sosial Humaniora, Pendidikan, Seni dan Budaya, serta Komisi Teknis Lingkungan dan Kebencanaan.  Masing-masing Komisi membidangi permasalahan yang sering muncul di Indonesia.  Pihaknya memiliki catatan yang perlu dikembangkan oleh DRN Periode tahun ini.  Riset yang didanai  public harus bisa bermanfaat lebih dari sekedar peningkatan ilmu pengetahuan. Riset harus berperan dalam meningkatkan stok ilmu pengetahuan, mendukung dan merangsang interaksi social, dan menyediakan pengetahuan social dan humanitas.

Presentasi Narasumber

  • Quo Vadis Riset Nasional (Dr, Muhammad Dimyanti/Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Inovasi Ristekdikti),
  • Penguatan SDM Inovatif dan Inovasi dalam industry (Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si/DirekturJenderal Penguatan Inovasi Ristekdikti)
  • Pandangan DRD Sumsel tentang Arti Penting UMKM Inovatif untuk Ekonomi Fundamental RI (Prof. Ir. H. Fachrurrozie Sjarkowi, Ph.D/ Ketua DRD Sumsel)
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Ilmu Pengetahuan Yokyakarta (Ir. Bayudono, M,Sc/Ketua DRD DIY)

Prof. Dr. Ir. H. Fachrurrozie Sjarkowi, M.Sc. (Ketua DRD Sumsel) dalam paparannya  menyampaikan bahwa Bertitik-tolak dari Konsepsi MIT (E. Robert. 2009) yang Dianut DRN “INOVASI = INVENSI X KOMERSIALISASI”, Menurut DRD-Sumsel: Tanda Kali Diperankan Oleh Difusi dan Adopsi

Invensi; yakni temuan Ipteks-inovatip siap dilepas ke dunia usaha oleh pihak peneliti  selaku pemilik hak paten-nya.

Difusi; yakni memicu simpati dan keinginan pelaku bisnis lewat proses uji-coba agar tertarik menggunakan invensi

Adopsi; yakni menggugah keputusan pelaku bisnis untuk memakai invensi (dibantu investasinya oleh ‘OPD’ terkait).

Komersialisasi; yakni langkah maju pebisnis dengan standardisasi dan promosi guna meraih sasaran pemasaran lebih luas

Inovasi; yakni komitmen penuh pebisnis untuk nikmati laba dan nilai tambah yang lebih    dengan terus meningkatkan daya- saing dari waktu ke waktu berkelanjutan.

HILIRISASI = ‘INOVASI PLUS’ Harus Diberi Tekanan Makna Demikian Agar Punya Daya Operasional Pragmatik.  HILIRISASI komoditi merupakan proses pergeseran tekno-ekonomi, dari pola produksi tradisional dan seadanya jadi produksi komoditi primer yang lebih bemutu sesuai kriteria bahan baku pabrik pengolahnya guna menghasilkan produk (agro)-industri didasari pertautan transaksi antara 2 (dua) satuan usaha yang aktif di hulu dan di hilir, dan ini berlangsung atas dorongan Pemerintah Daerah.

Ketua DRD Sumsel juga menyampaikan bahwa Faktor Penentu Kritikal Bagi Sukses Inovasi adalah

• SDM Pengelola; idealnya berkualifikasi 5B:

1) Berilmu-pengetahuan kuat tentang bisnis

2) Berkemampuan melakukan riset-aksi

3) Berbakat pengelola dan enterprener.

4) Berdedikasi menggerakkan potensi warga.

5) Berkeihlasan tinggi mengemban amanah.

• SDB Penggerak; idealnya DRD punya 3-S:

1) Sarana mobilitas tinggi di daerah masing2

2) Sarana mitra kerja operasional; STP, ATP.

3) Sekretariat yang diperkuat SDM profesional

Sangat Perlu untuk Memicu-pacu Niaga Antar-Pulau Demi Fundamental Ekonomi Kuat, Kekuatan sesungguhnya ekonomi RI berada ditangan 65% pelaku agribisnis kerakyatan jika mereka bisa dibina jadi INOVATIF &/ KREATIF, Kekuatan perekonomian bangsa ini terletak pada kekhasan agroklimat, biogeofisik lahan dan sosekbud di lintas KABUPATEN dan KOTA, Kekuatan sesempurna impian NKRI akan terbina oleh kerukunan beragama, keapikan sos-politik, dan kelancaran niaga berisi BARTER antar daerah.

 

Foto Berita

1298
1299